Top Picks
Gunakan Dana Pribadi, Prayunita Bantu Masyarakat Dapil Kutim III Terdampak Covid-19 Suasana Kantor Disdik Kutim Ditengah Wabah Covid-19 Lanal Sangatta Gagalkan Penyelundupan Sabu dan Miras CT Asal Sulteng Bersama Pendukung Laskar Ayam Jantan, Kasmidi Nobar Final AFC Cup 2022 Sekda Kutim Klarifikasi Terkait Pengurangan DAU Merupakan Informasi Tidak Berdasar Kamsiah Serap Aspirasi Masyarakat Dapil IV Kutim

Menarik Magnet Bali Ke Maratua Dengan Direct Flight

fokuskaltim.co - Kalimantan Timur sangat dikenal sebagai provinsi yang berlimpah sumber daya alam. Baik kekayaan di daratan maupun di lautan. Hasil di darat seperti kayu, hasil kebun dan pertanian.  Kaltim juga kaya dengan hasil laut, bahkan juga berlimpah kekayaan dari dalam perut buminya. Ada tambang batu bara, minyak dan gas, baik onshore (darat) maupun offshore (lepas pantai). 

Dari kekayaan sumber daya alam tak terbarukan batu bara, minyak dan gas itu Kaltim bahkan sudah sejak berpuluh-puluh tahun lampau terus menjadi penyumbang devisa terbesar bagi republik ini.  

Namun sayangnya, rupiah yang mengalir kembali ke Benua Etam masih sangat tak sebanding dengan kerusakan alam yang ditimbulkan. 

Padahal Kaltim sudah harus menyegerakan transformasi kekuatan ekonomi tak terbarukan menjadi kekuatan ekonomi baru terbarukan.  

Salah satu prioritas pembangunan Kaltim masa depan pascatambang adalah sektor kepariwisataan. Namun sayangnya, sektor ini pun tak masuk dalam  prioritas nasional pembangunan bidang kepariwisataan. 

Berbagai destinasi wisata Kaltim dinilai masih kurang bersaing dibanding Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, Morotai, dan Bromo. 

Melihat kenyataan ini, Gubernur Kaltim H Isran Noor meminta agar untuk pengembangan sektor kepariwisataan, pemerintah daerah tidak bisa hanya bergantung perhatian pusat. 

"Tidak apa-apa. Kita usaha sendiri jangan bergantung APBN. Makanya, tepat sekali kalau kita mulai menggandeng para pengusaha wisata di Bali. Sebab magnet terbesar wisata Indonesia itu adalah Bali. Mereka yang bisa mengatur dan mendesain paket wisata yang terbaik," kata Gubernur Isran Noor saat membuka Regional Investment Forum bertajuk "The Marvelous Coastal Area and Outer Islands of Berau Regency atau  "Wilayah Pesisir dan Kepulauan Terluar Kabupaten Berau Yang Menakjubkan", Kamis (28/7/2022) di Bali Dynasty Resort Kuta. 

Kaltim sendiri memiliki destinasi unggulan Pulau Derawan, Maratua dan sekitarnya, serta Kaniungan di sisi selatan Kabupaten Berau.

Gubernur katakan, saat ini Bali memang sangat dikenal dunia. Sangat wajar, selain memiliki pantai dan laut yang masih bersih dan indah, serta ombaknya yg khas, Pulau Dewata sudah dikenal para pelancong Eropa sejak tahun 1597 lampau. 

Walau begitu, Kaltim masih menyimpan potensi besar keunggulan pariwisata sehingga semestinya tetap bisa bekerjasama dengan Bali. 

"Keindahan pariwisata di Kalimantan Timur itu sebagian ada yang sama hebatnya dengan Bali. Sebagian Bali tidak punya seperti di Kalimantan Timur.  Tapi ada juga Kalimantan Timur tidak punya seperti Bali,"  beber Gubernur. 

"Satu-satunya di dunia yang namanya ikan barakuda bisa membentuk konfigurasi ketika orang menyelam. Seperti ingin show of force begitu. Itu hanya ada di Derawan dan Maratua," bangga Gubernur lagi.

Persoalannya, pengusaha wisata di Bali pun akan berpikir ulang untuk membuat paket wisata Bali-Derawan dan sekitarnya,  jika pemerintah tidak menyiapkan akses dan kebijakan yang mendukung.

Karena itu Gubernur Isran berharap agar Pemerintah Kabupaten Berau dan juga pengelola wisata di Maratua segera bergegas untuk memohon kepada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi agar secepatnya dibuka jalur penerbangan ke Maratua yang sudah memiliki kapasitas bandara. 

Dibukanya jalur penerbangan Bali-Maratua diyakini akan mempercepat peningkatan kunjungan ke pulau-pulau terluar di Kaltim itu.

Seperti penjelasan salah seorang pengusaha wisata di Bali, Sugeng. Setiap wisatawan akan berpikir ulang bila harus menghabiskan banyak waktu di jalan untuk bisa sampai ke lokasi tujuan. 

"Jika ada penerbangan langsung ke Maratua, tidak sulit bagi kami untuk membuat paket wisata ke Maratua dan sekitarnya," kata Sugeng. 

Tanpa penerbangan langsung ke Maratua, wisatawan masih harus terbang dan transit di beberapa kota. Surabaya, Balikpapan dan Tanjung Redeb. Itupun masih harus melanjutkan perjalanan dengan pesawat ke Bandara Maratua atau melanjutkan dengan jalan darat ke Tanjung Batu untuk meneruskan dengan speed boat untuk beberapa jam lagi. 

"Habis waktu mereka hanya untuk perjalanan. Bisa 4 hari pulang pergi. Padahal bukan itu yang mereka inginkan," tandas Sugeng.

Umumnya kata Sugeng, pengunjung dari kawasan Asia Pasifik punya waktu berlibur selama 7 hari. Wisatawan Eropa dan Amerika biasanya dalam kisaran 14 hari hingga 21 hari.

Kabar baiknya, rencana kerja sama ini mendapat dukungan Pemerintah Provinsi Bali.

Asisten Pemerintahan dan Sekda Bali I Gede Dewa Putra, mewakili Gubernur I Wayan Koster menyampaikan bahwa Pemprov Bali siap berkolaborasi dan terbuka untuk kerja sama dengan Kaltim.

"Pemerintah Provinsi Bali sangat terbuka untuk membangun kolaborasi serta siap membuka ruang diskusi bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur demi kemajuan kita bersama," kata I Gede Dewa Putra. 

"Kami pun menyambut baik rencana pengembangan wisata pesisir dan pulau terluar di Kabupaten Berau menjadi daerah pariwisata yang menakjubkan," imbuhnya.

Kunjungan wisatawan ke Bali saat ini sudah bergerak naik. Meski untuk wisatawan mancanegara angkanya masih di kisaran 8.000 orang per hari. Dalam kondisi normal sebelum pandemi kunjungan wisatawan mancanegara di Bali bisa mencapai 45.000 orang per hari. Sedangkan wisatawan domestik  ke Bali saat ini  sudah hampir mendekati kondisi puncak 28.000 orang per hari.

Selangkah dua langkah lagi menuju sebaran magnet pariwisata dari Bali ke Maratua, Derawan dan sekitarnya. Berharap jutaan wisatawan domestik dan mancanegara bisa berkunjung ke Maratua dengan direct flight Bali-Maratua.  (ADV/KOMINFOKALTIM)

Baca Juga